Posisi terminal ferry ini ada di lantai 1 Mall China Hong Kong City. Begitu kita sampai di Mall China Hong Kong City kita langsung naik lift ke lantai 1, nah kalau sudah di lantai 1 tinggal ikutin aja petunjuk yang ada di langit-langit Mall.
Saya pernah mencari info pembelian tiket jet ini akan sedikit lebih murah kalo beli di calo. Calo tiket ini jualannya pun gak sembunyi sembunyi tapi terang terangan di depan loket resmi. Harga tiket resmi bisa kita lihat diatas loket . Jadi ketika mau beli di calo tinggal membandingkan aja harganya, lalu jangan takut untuk menawar. Waktu itu walaupun harganya sudah lebih murah sedikit dibanding tiket resmi tapi saya sempet nawar juga dan lumayan lah turun lagi harganya.
Tiket Cotai Water Jet versi kucel :D
Pintu keberangkatan pelabuhan posisinya tidak terlalu jauh dari tempat kapal ferry ditambat. Berbeda dengan saat pulang, dari kapal menuju pintu pelabuhan kita harus berjalan lumayan jauh. Begitu masuk kapal, kita diminta menunjukan tiket dan diarahkan oleh pramugari posisi tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. Kursi penumpang kapal Cotai Water Jet terlihat bersih dan terawat dengan kursi berlapis kulit.
Bakery Portuguese Egg Tart Legendaris
Ruin of Saint Paul dipadati Wisatawan
The Grand Canal Shoppes
Gak Naik Gondola, Selfie Aja Diatas Jembatan :p
Fast-forward langsung ke perjalanan pulang Macau - Hong Kong, tentunya dengan Cotai water jet lagi. Untuk balik ke pelabuhan Taipa kita bisa menumpang bis dari hotel bintang lima di Macau. Iyes numpang, karena memang gratis naik Bis ini walaupun kita tidak menginap di hotel tersebut.
Begitu sampai di dalam kapal ferry ternyata penumpang sudah cukup padat, lebih padat dari pada saat berangkat tadi siang. Karena capek jalan kaki seharian, tidak perlu menunggu lama, saya tertidur selama perjalanan pulang di kapal ferry. Sampai jumpa lagi Macau!
SaveSave
SaveSave
SaveSave
SaveSave
Tiba Di Terminal Ferry Taipa
Cotai Water Jet si kapal ferry super cepat mengantarkan saya dan Manda ke Terminal Ferry Taipa, Macau. Jalan dari tempat kapal jet berlabuh hingga gedung imigrasi lumayan jauh. Angin kencang yang menusuk kulit menyambut saya begitu sampai di pelabuhan. Langsung saja saya buru-buru lari sambil melawan udara dingin. Sampai diantrian imigrasi, ternyata para penumpang bersiap-siap mengeluarkan jaket super tebal mereka dari koper dan benar saja, setelah mengantri di loket imigrasi sekitar 5 menit lalu keluar gedung, brrrrrr.... udara Macau sungguh menusuk! Diluar pelabuhan sudah terparkir shuttle bus dari berbagai hotel bintang lima. Saya menunggu bus dari Hotel Lisboa yang konon posisinya paling dekat untuk menuju Ruins of St. Paul's tapi kok udah 15 menit gak muncul juga busnya. Akhirnya karena udah gak tahan sama udaranya, dengan random cap cip cup kita pilih naik bus Hotel The Sands. Sampai di lobby hotel kita turun and we have no clue. Akhirnya sotoy nyebrang ke arah Barat sambil buka Google Map dan ternyata The Sands ini posisinya masih jauh dari landmark yang ingin kita tuju.Kalau diperhatikan kanan-kiri trotar ini sepi banget gak ada orang jalan kaki sama sekali, gak seperti di Hong Kong yang baru keluar hotel aja isinya pejalan kaki semua. Nah buat yang tertarik untuk mengujungi Fisherman's Warf, pas nih naik bus Hotel The Sands karena lokasinya persis di seberang Hotel. Kalo saya sih kemarin gak mampir kesana. Jadi setelah nyebrang hotel saya telusuri terus trotoar depan Fisherman's Warf sekitar 500 meter lalu belok kiri, baru deh nemu halte bus. Bus ini yang membawa kita menuju ke lokasi terdekat dengan landmark Ruin of St. Paul's. Ternyata nyari transportasi umum di Macau gak semudah di Hong Kong. Kotanya sepi bangeeet jadi kalo mau nanya orang di pinggir jalan kayaknya gak mungkin. Ditambah jarak antara tiap hotel jauh-jauh. Apartemen penduduk cuma ada di pinggir kota. Papan penunjuk jalannya pun hampir gak ada. Andai kita pergi dijaman belom ada google map sih udah nyasar bye!
Menjelajah Bangunan Bersejarah Macau
Bus umum yang kita naiki berhenti di salah satu gedung yang ternyata posisinya ada dibelakang Ruins of St. Paul's. Yeaaay akhirnya sampai juga. Wah rame suasana wisata baru berasa nih. Mau foto biar cakep hasilnya juga harus gantian, karena memang tempat ini dipadati turis yang juga pada sibuk foto di bangunan kuno cantik ini. Setelah puas mengambil gambar dan menikmati pemandangan kota Macau dari atas. Kita menuruni tangga dan berjalan menelusuri jalan kecil dimana kanan kirinya dipenuh toko.Sebagian besar toko yang ada disini merupakan penjual portuguese eeg tart yang super enaaak. Saya coba salah satunya di Pastelaria Koi Kei yaitu yang posisinya paling dekat dengan tangga menuju Ruins of St. Paul's. Pastrynya yang renyah dan custard karamel lembut manis bener-bener bikin nagih. Aromanya juga menggoda sekali. Selain egg tart, hampir setiap meter juga ditemukan penjual dendeng babi. Nah kalau yang ini saya gak makan, walaupun tester dendeng ini dijajakan bahkan kadang disodorin depan kita oleh para penjualnya sambil saling bersautan, rame dan heboh deh mereka hihihi. Selain dua jajanan itu, toko disekitar sini kebanyakan menjual kue kering seperti almond cookies dengan packaging menarik bisa untuk oleh-oleh, pakaian, jam tangan dan kosmetik. Rata-rata sih toko lainnya hampir sama dengan yang ada di Hong Kong.
Terdampar di Cotai
Destinasi selanjutnya dalam intenerary kita adalah menuju casino. Untuk kesana lagi-lagi kita harus muter-muter pakai goodle map karena petunjuk jalan yang tersedia sangat minim.
Saatnya Pulang Ke Hong Kong
Karena kecapean selama perjalanan dengan ferry, saya malah jadi bisa tidur. Lumayan juga, jadi gak ngerasain gelombang laut yang bikin mual. Sekitar Jam 18.45 kita udah kembali di Hong Kong-China Ferry terminal. Antrian imigrasi untuk masuk Hong Kong lumayan panjang dan ternyata jam segini masih banyak banget wisatawan yang baru mau berangkat ke Macau.
SaveSave
SaveSaveSaveSave
SaveSaveSaveSaveSaveSaveSaveSaveSaveSave
SaveSave
Persiapan Sebelum Berangkat
Perjalanan Menuju Raudhah
Masuk Raudhah dangan Berpencar
Selain jarak antara penginapan dan Mesjid, faktor lain dalam menentukan pemilihan tour untuk perjalanan umroh adalah maskapai penerbangan yang digunakan. Oleh karena ibadah umroh hampir 80 persen berupa kegiatan fisik maka maskapai penerbangan menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Sebagian besar maskapai penerbangan dari Jakarta mendarat di Jeddah. Kemudian dalam intenerary perjalannya ibadah dimulai di Kota Madinah. Jadi setelah melalui penerbangan cukup panjang dibutuhkan lagi waktu sekitar 6 jam perjalanan darat dari Airport Jeddah ke Madinah. Bukan masalah , toh memang sudah niat untuk ibadah . Tetapi jika ada alternatif yang lebih efisien alangkah enaknya. Setelah mencari info ternyata Saudi Airlines adalah maskapai yang dapat langsung (direct ) mendarat di Madinah.
Perjalanan umroh saya waktu itu adalah tanggal 23 February 2017. Walaupun jadwal keberangkatan adalah jam 16.00 tapi kami diharuskan kumpul jam 11 siang di airport untuk mengumpulkan koper . Sekitar pukul 12 siang kami mulai masuk kedalam lounge. Di lounge kita bisa makan, mencharge handphone juga disediakan musholla. Setelah menikmati makan siang saya berbincang dan berkenalan dengan rombongan umroh lainnya, kemudian kami bergantian shalat dzuhur yang dijamak dengan ashar. Pukul 15.30 seluruh rombongan tour menuju ke boarding room . Ketika sudah tiba di boarding room ternyata pesawat SV 821 tujuan Madinah di delay, dan kemungkinan baru bisa boarding sekitar pukul 17.00 akhirnya rombongan kami memilih untuk duduk di ruang tunggu sepanjang lorong boarding room dimana disekelilingnya terdapat beberapa coffeshop dan bakery. Akhirnya sekitar pukul 17.15 kami masuk ke dalam boarding room, tidak lama kemudian para penumpang dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat sesuai dengan urutan zona tempat duduk.
Alhamdulilah dapet posisi duduk di 31 A dan 31 C posisinya adalah baris kedua setelah pintu masuk dan ajaibnya lagi, dari segitu banyak rombongan penumpang dari seluruh Indonesia, di barisan kursi saya kosong satu seat. Jadi dalam barisan saya yang harusnya diisi 3 orang hanya ditempati oleh saya dan suami.
Selanjutnya di pesawat kebanyakan yang kita lakukan tentunya berdoa atau membaca surat-surat pendek, klo waktu itu saya bawa buku lipat kecil yang berisi surat Yasin dan Ar-Rahman saya perhatikan juga ada beberapa yang membawa Al-Quran kecil. Kalo pun tidak bawa, di tv terdapat audio book Al–Quran. Selain itu selama penerbangan juga disediakan film box office, film serial bahkan video games. Sehingga jika sulit tidur pun ada hiburan lain yang bisa dilakukan.
Diantara kegiatan itu juga tentunya diselingi waktu isi perut alias makan. Makan malam pertama kita boleh memilih menu daging, ikan atau ayam. Saya dan suami memilih daging, dan rasanya enaak bangeet. Serius deh soalnya kan biasanya makanan pesawat hambar gak jelas gitu rasanya tapi ini dari tampilannya mirip daging balado tapi rasa rendang dan enak. Penampakannya seperti ini niih
Selimut, kaos kaki, bantal semuanya komplit disediakan. Ditoilet juga cukup lengkap amenitiesnya seperti hand soap (suka deh wanginya!) hand lotion, juga hand sanitizer.
Jadi dalam penerbangan Jakarta – Madinah. Kita transit sebentar di Riyadh untuk mengisi bahan bakar dan juga pergantian cabin crew. Setelah transit yaitu sekitar pukul satu dini hari, kita ditawarin makan lagi, pilihannya ravioli atau nasi ayam. Saya pilih ravioli ini
Isi raviolinya lumayan padat dan rasanya enak, isinya bayam dan ayam atau salmon ya saya lupa. Sayangnya sausnya agak hambar tapi jangan sedih soalnya dibalik kerupuk itu ada sambel belibis (bukan iklan ya) jadi lumayan untuk penambah rasa. Sekitar 15 menit setelah makan, kita dibagikan lagi roti gede model long john didalemnya ada keju. Saya simpen aja di tas buat jaga-jaga kalo nanti laper di hotel. Ternyata sampe hotel kita juga udah disediakan makanan kotak isinya nasi putih dan rendang. Jadilah sampai kamar malah kalap makan nasi rendang dan si roti keju pesawat itu malah gak kemakan.
Intinya pengalaman naik Saudi Airlines dari Jakarta ke Madinah berjalan nyaman banget. Take-off dan landingnya selalu smooth, entertainment yang kekininan juga sangat menghibur disaat jenuh. Untuk yang agak takut dengan kendala bahasa juga gak perlu khawatir, karena pramugari Jakarta-Madinah maupun saat pulang Jedah-Jakarta sebagian besar orang Indonesia jadi pastinya lancar berbahasa Indonesia. Paling kekurangnnya saat harus delay 2 jam. Itupun sepertinya karena kendala cuaca.
Ohya saya tulis juga deh perjalanan pulangnya yaitu Jedah- Jakarta. Pas pulang justru on time sekali pesawatnya. Untuk masuk ke boarding room juga ternyata pemeriksaannya gak seketat yang saya khawatirkan. Menu makan malam pas pulang gak sempet saya foto. Boro-boro foto pas ditengah-tengah makan aja saya ketiduran -___-" saking ngantuknya. Saya inget kok tapi pilihannya waktu itu nasi daging atau bihun goreng dan saya pilih bihun goreng. Paling nyenengin adalah pilihan menu keesokan paginya, menggugah selerah banget! Telur dadar atau pancake. Tentunya sebagai penggemar pancake saya pilih blueberry pancake!
Lagi-lagi berkah dari Allah SWT belum berakhir, pas pulang saya dan suami dapet tempat duduk di seat 30 A dan B. Dimana itu posisi paling depan jadi kaki bisa selonjoran lebih luas. Alhamdulilaaaaaah
Semoga kalau ada rejeki dan umur panjang bisa menunaikan ibadah Haji semulus ini selama perjalanan udara Aamiin ya rabbal 'alamin.
Baca Juga Yuk UMRAH TRIP : HARI KEDUA, MENGUNJUNGI MESJID QUBA DAN JABAL UHUD









